Marwan bin al-Hakam bergelar Marwan I (623 – 685) ialah Khalifah Bani Umayyah yang mengambil alih tampuk kekuasaan setelah Muawiyah II menyerahkan jabatannya pada 684. Naiknya Marwan menunjukkan pada perubahan silsilah Bani Umayyah dari keturunan Abu Sufyan ke Hakam, mereka ialah cucu Umayyah (darinya nama Bani Umayyah diambil).

Hakam ialah saudara sepupu Utsman ibn Affan. Selama masa pemerintahan Utsman, Marwan mengambil keuntungan dari hubungannya pada khalifah dan diangkat sebagai Gubernur Madinah. Bagaimanapun, ia diberhentikan dari posisi ini oleh Ali, hanya diangkat kembali oleh Muawiyah I. Akhirnya Marwan dipindahkan dari kota ini saat Abdullah bin Zubair memberontak terhadap Yazid I. Dari sini, Marwan pergi ke Damsyik, di mana ia menjadi khalifah setelah Muawiyah II turun tahta.

Masa pemerintahan singkat Marwan diwarnai perang saudara di antara keluarga Umayyah seperti perang terhadap Ibnu Zubair yang melanjutkan pemerintahan atas Hejaz, Irak, Mesir dan bagian Suriah. Marwan sanggup memenangkan perang saudara Bani Umayyah, akibat dari yang merupakan jalur Marwan yang baru dari Khalifah Umayyah. Ia juga sanggup menaklukkan kembali Mesir dan Suriah dari Abdullah, namun tak sanggup sepenuhnya mengalahkannya.

‘Abdul-Malik bin Marwan adalah khalifah kelima dari Bani Umayyah, menggantikan khalifah Marwan bin al-Hakam pada 692 Masehi. Selama masa pemerintahannya ia membebaskan banyak kota seperti kota-kota Romawi (696-705 M), Afrika Utara (698-703 M), dan Turkistan (705 M). Tahun 705 M ia digantikan oleh al-Walid bin ‘Abd al-Malik.

Al-Walid bin Abdul-Malik bergelar Al-Walid I (668 – 715) ialah Khalifah Bani Umayyah yang memerintah antara 705 – 715. Ia melanjutkan ekspansi Khilafah Islam yang dicetuskan ayahandanya, dan merupakan penguasa yang efektif. Al-Walid I ialah putra sulung Abdul-Malik dan menggantikannya ke kursi kekhilafahan setelah kematiannya. Seperti ayahandanya, ia melanjutkan untuk memberikan kebebasan pada Al-Hajjaj bin Yusuf, dan kepercayaannya Al-Hajjaj dilunasi dengan penaklukan sukses Transoxiana (706), Sindh (712), sebagian Prancis (711), Punjab (712), Khawarizm (712), Samarkand (712), Kabul (kini di Afganistan, pada 713), Tus (715), Spanyol (711), dan tempat-tempat lain. Hajjaj bertanggung jawab memilih jenderal yang menunjukkan kampanye sukses, dan banyak dikenal dari kampanye suksesnya terhadap Ibn Zubair selama masa pemerintahan ayahanda Al-Walid.

Al-Walid sendiri melanjutkan pemerintahan yang efektif yang merupakan ciri-ciri ayahandanya, ia mengembangkan sistem kesejahteraan, membangun rumah sakit, institusi pendidikan dan langkah-langkah untuk apresiasi seni. Al-Walid sendiri merupakan penggemar berat arsitektur lalu memperbaiki, memperluas dan memperbaharui kembali Masjid Nabawi di Madinah tahun 706. Di samping itu, ia mengubah Basilika Kristen St. Yohanes Pembaptis menjadi mesjid besar, kini dikenal sebagai Masjid Agung Damaskus atau secara singkat Masjid Umayyah. Al-Walid juga secara besar-besaran mengembangkan militer, membangun angkatan laut yang kuat.

Ia juga dikenal karena kesalehan pribadinya dan banyak cerita menyebutkan bahwa ia terus-menerus mengutip al-Qur’an dan selalu menjadi tuan rumah yang menyajikan jamuan besar untuk orang-orang yang berpuasa selama bulan Ramadhan. Al-Walid digantikan saudaranya Sulaiman bin Abdul-Malik. Sulaiman bin Abdul-Malik (± 674 – 717) ialah Khalifah Bani Umayyah yang memerintah dari 715 sampai 717. Ayahandanya ialah Abdul-Malik, dan merupakan adik khalifah sebelumnya al-Walid I. Sulaiman mengambil kekuasaan, dalam, pada lawan politiknya Al-Hajjaj bin Yusuf. Bagaimanapun, al-Hajjaj meninggal pada 714, maka Sulaiman menyiksa sekutu politiknya. Di antaranya ada 3 jenderal terkenal Qutaibah bin Muslim, Musa bin Nusair, dan Muhammad bin Qasim. Seluruhnya ditahan dan kemudian dibunuh.

Di bawah pemerintahannya, ekspansi berlanjut ke bagian pegunungan di Iran seperti Tabiristan. Sulaiman juga memerintahkan serangan ke Konstantinopel, namun gagal. Di kancah domestik, dengan baik ia telah membangun di Makkah untuk ziarah, dan mengorganisasi pelaksanaan ibadah. Sulaiman dikenal untuk kemampuan pidatonya yang luar biasa, namun hukuman matinya pada ke-3 jenderalnya menyuramkan reputasinya. Ia hanya memerintah selama 2 tahun. Ia mengabaikan saudara dan putranya, dan mengangkat Umar bin Abdul-Aziz sebagai penggantinya sebab reputasi Umar sebagai salah satu dari yang bijaksana, cakap dan pribadi alim di masa itu. Pengangkatan seperti jarang terjadi pada masa itu, walau secara teknis memenuhi cara Islam untuk mengangkat pengganti, mengingat pengangkatan berkelanjutan tidak.

Umar II (lengkap: Umar bin Abdul-Aziz, lahir Halwan, Mesir 63H/682, wafat 719) adalah putra Abdul-Aziz bin Marwan, gubernur Mesir saat itu, dan Umm Asim, cucu Umar bin Khattab. Umar dibesarkan di Madinah, dibawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak.

Pada tahun 706, Umar diangkat menjadi gubernur Madinah oleh khalifah al-Walid I.
Umar menjadi khalifah menggantikan Sulaiman yang wafat pada tahun 716. Beliau di bai’at sebagai khalifah pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at. Hari itu juga setelah ashar, rakyat dapat langsung merasakan perubahan kebijakan khalifah baru ini. Khalifah Umar, masih satu nasab dengan Khalifah kedua, Umar bin Khattab dari garis ibu.

Zaman pemerintahannya berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mengkondisikan negaranya seperti saat 4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah. Kebijakannya dan kesederhanaan hidupnya pun tak kalah dengan 4 khalifah pertama itu. Karena itu banyak ahli sejarah menjuluki beliau dengan Khulafaur Rasyidin ke-5. Khalifah Umar ini hanya memerintah selama tiga tahun kurang sedikit. Menurut riwayat, beliau meninggal karena dibunuh (diracun) oleh pembantunya.

Yazid bin Abdul-Malik atau Yazid II (687 – 724) ialah Khalifah Bani Umayyah yang berkuasa antara 720 sampai kematiannya pada 724. Pengangkatan Yazid dihantam oleh konflik internal dan eksternal di sana-sini. Sejumlah perang saudara mulai pecah di bagian yang berbeda dari kekhilafahan seperti Spanyol, Afrika dan di timur. Reaksi keras oleh penguasa Bani Umayyah tak membantu persoalan, dan kelompok anti-Umayyah mulai memperoleh kekuasaan di antara mereka yang tak puas. Ini menyebabkan kelompok seperti Bani Abbasiyah mulai membangun dasar kekuatan yang akan digunakannya untuk merobohkan Khilafah Bani Umayyah. Namun Khilafah Bani Umayyah belum benar-benar surut.

Yazid II meninggal pada 724 karena tuberkulosis. Ia digantikan saudaranya Hisyam.
Hisyam bin Abdul-Malik (691–743) ialah Khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari 723 sampai kematiannya pada 743. Mewarisi kekhilafahan dari saudaranya Yazid II, Hisyam menguasai khilafah dengan banyak masalah berbeda. Ia akan, bagaimanapun, berhasil in attending to masalah-masalah itu, dan memberikan Khilafah Umayyah berlanjut sebagai negara masa pemerintahannya yang panjang merupakan yang berhasil, dan memperlihatkan kelahiran kembali perbaikan yang dirintis Umar bin Abdul-Aziz.

Seperti saudaranya al-Walid I, Hisyam merupakan pelindung seni yang besar, dan ia kembali mendorong seni di negaranya. Ia juga mendorong pengembangan pendidikan dengan membangun banyak sekolah, dan barangkali yang terpenting, dengan mengawasi penerjemahan sejumlah karya besar sastra dan ilmiah ke dalam bahasa Arab. Ia mengembalikan penafsiran sempurna Syari’at sebagaimana Umar telah melakukannya, dan menjalankannya, sama terhadap keluarganya sendiri. Kemampuannya mendirikan garis keturunan Umayyah mungkin telah merupakan faktor penting keberhasilannya, dan mungkin menunjukkan mengapa saudaranya Yazid tak efektif.

Di bidang militer, Hisyam mengirimkan pasukan mengakhiri pemberontakan Hindu di Sind, dan berhasil saat penguasa Hindu Jai Singh terbunuh. Ini mengizinkan Bani Umayyah menegaskan kembali kekuasannya atas provinsi di India. Di Spanyol, perseteruan dalam negeri dari tahun-tahun terakhir itu berakhir, dan Hisyam mengirimkan pasukan besar yang berangkat ke Prancis. Walau awalnya sukses, mereka dikalahkan dalam Pertempuran Tours (Balat asy-Syuhada) oleh Charles Martel.

Bagaimanapun, Khilafah Islam melanjutkan menguasai Spanyol. Di Afrika Utara, pemberontakan besar Berber ditumpas, dengan tewasnya ratusan ribu pemberontak. Kemenangan ini mengakhiri pemberontakan Berber. Hisyam juga menghadapi pemberontakan oleh cucu Husain bin Ali, Zaid bin Ali, namun pasukan Zaid berhasil dikalahkan.
Walaupun Hisyam sukses, Bani Abbasiyah terus memperoleh kekuatan, membangun basis kekuatan di Khurasan dan Irak. Namun mereka belum membuktikan cukup kuat untuk membuat gerakan.

Setelah meninggal, ia digantikan keponakannya Walid II. Al-Walid bin Yazid atau al-Walid II (meninggal 16 April 744) ialah Khalifah Bani Umayyah yang berkuasa antara 743 sampai 744. Ia menggantikan pamannya, Hisyam bin Abdul-Malik. Naiknya Walid ke tampuk kekuasaan secara keras ditantang banyak orang dalam istana karena reputasi Walid yang gaya hidupnya tak bermoral. Walau begitu, ia telah dijadikan kholifah. Ia hampir secara cepat mulai menargetkan yang menentangnya, menimbulkan kebencian luas terhadap Walid yang menyebar menjadi kebencian pada Bani Umayyah. Walid terbunuh pada 16 April 744 saat memerangi beberapa musuhnya. Ia digantikan sepupunya Yazid III.

Yazid bin Walid bin Abdulmalik atau Yazid III (701 – 744) ialah Khalifah Bani Umayyah. Ia naik tahta hanya selama 6 bulan sebelum meninggal. Pengangkatannya ditandai tindakannya yang tak sempurna, membuatnya digelari “Tak Sempurna”. Di antara yang terkemuka ialah penolakannya untuk membayar kenaikan gaji pada pasukan oleh al-Walid II. Yazid digantikan saudaranya Ibrahim bin Walid.

Ibrahim ibn Al-Walid ialah Khalifah Bani Umayyah. Ia hanya memerintah dalam waktu singkat di tahun 744 sebelum ia turun tahta, dan bersembunyi dari ketakutan terhadap lawan-lawan politiknya. Pada masa pemerintahan Khalifah Ibrahim bin al-Walid, telah dilakukan penerjemahan buku-buku filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Hal ini mengakibatkan lahirnya golongan Mutakalimin, seperti Mu’tazilah, Jabariah, Ahlus Sunnah, dsb.

Abd ar-Rahman I juga disebut sebagai Abdur Rahman Ad-Dakhil (Yg masuk). Mengembara bersama pengawal pribadinya selepas kejatuhan Khilafah Bani Umayyah sampai ke Spanyol. Setibanya di sana, ia memaklumkan tentang keadaan pergolakan & pertukaran tampuk pemerintahan di benua Arab. Dengan itu, pemerintahan Islam di Spanyol mendeklarasikankan pemisahan dengan Khilafah Bani Abbasiyah dan melantik Abd Rahman I sebagai Amir untuk pemerintahan Islam Spanyol.

 

 

BANI ABBASIYAH

Kekhalifahan Abbasiyah adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Bagdad (sekarang ibu kota Irak) sejak tahun 750. Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini meredup setelah naiknya bangsa tentara-tentara Turki yang mereka bentuk. Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Bagdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Bagdad.

Menuju kekuasaan Bani Abbasiyyah adalah bahwa keturunan dari Abbas bin Abdul Muttalib (566-652) yang merupakan salah seorang daripada saudara Nabi Muhammad s.a.w., oleh itu mereka merasa mereka layak untuk menjadi khalifah dengan memandang silsilah keturunan mereka itu. Bani Ummaiyyah ialah salah satu golongan dalam kaum Quraish yang berlainan daripada keturunan nabi.

Muhammad bin Ali, cicit Saidina Abbas menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, penentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah menang melawan tentera Ummayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah.

Mamaluk

Kekhalifahan Abbasiyah adalah yang pertama kali mengorganisasikan penggunaan tentara-tentara budak yang disebut Mamaluk pada abad 9. Dibuat oleh Al-Ma’mun tentara-tentara budak ini didominasi oleh bangsa Turki tetapi juga banyak diisi oleh bangsa Berber dari Afrika Utara dan Slav dari Eropa Timur. Ini adalah suatu inovasi sebab sebelumnya yang digunakan adalah tentara bayaran dari Turki.

Bagaimanapun tentara Mamluk membantu sekaligus menyulitkan kekhalifahan Abbasiyah. karena berbagai kondisi yang ada di umat muslim saat itu pada akhirnya kekhalifahan ini hanya menjadi simbol dan bahkan tantara Mamaluk ini berhasil berkuasa dan mendirikan kesultanan di Mesir, dengan menyatakan diri berada di bawah kekuasaan (simbolik) kekhalifahan.
Ilmu Pengetahuan

Pada masa kekhalifahan ini dunia Islam mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan, sastra, dan filosofi dari Yunani, Persia, dan Hindustan.
Banyak golongan pemikir lahir zaman ini, banyak diantara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim.

Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu, dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. Tambahan pula, pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi, matematik, dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya.