Mengenal aliran Syiah

Ketika nabi Muhammad wafat sebagian besar sahabat menyetujui dan membai’at Abu Bakar Shdiq sebagai khalifat pertama, tapi sebagaian kelompok sahabat ada yang menginginkan kepemimpinan dari keturunan darah Rasulullah, yakni ALI BIN ABI THALIB. Beliau sepupu Rasulullah, menantu Rasulullah karena mengawini Fatimah putri Nabi, inilah cikal bakal kemunculan kelompok Syi’ah.

Pada perjalanan selanjutnya Syiahpun terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok. Ini terjadi karena perbedaan prinsip ajaran antara kaum moderat dan kelompok ekstrim. Penyebab kedua teradi karena perselisihan siapa yang menjadi pemimpin setelah saidina Ali, Hasan,  Husein dan Zainul Abidin. Ada yang mengusulkan Zaid putra Zainal Abidin, akhirnya menjadi golongan zaidiyah, ada yang mengusulkan Ja’far saudara kandung Zaid, berkembang menjadi golongan Ja’fariah ( Imamiah).

Diantara kelompok syiah yang ekstrim adalah kelompok al SABAIYAH yang menganggap saidina Ali sebagai Tuhan.

Kelompok lain yang paling besar adalah kelompok Syiah Issna Asyariah. Golongan ini banyak terdapat di Irak, Iran, dan Negara-negara Teluk. Pokok-pokok pikiran mereka antara lain:

  1. Abu Bakar dan Umar bin Khatab telah merampas jabatan khalifat dari Ali.
  2. Kedudukan Ali setingkat lebih tinggi dari manusia biasa.
  3. Keluruh Imam-Imam Syiah itu Maksum ( terjada dari Kesalahan)
  4. Imam ke 12  ( Muhammad ibn Hasan ibnu Ali) hilang dan akan muncul di akhir zaman.
  5. Hukum-hukum yang berlaku adalah hukum-hukum yang diakui oleh para imam , patuh kepada imam berarti patuh kepada Allah SWT dan menentang Imam berarti menentang Allah SWT.

Setelah imam yang kedua belas hilang sewaktu kecil, mereka berkeyakinan bahwa imam ini akan muncul lagi nanti di akhir zaman sebagai IMAM MAHDI. Sebelum itu terjadi dan tidak boleh mengangkat imam lagi, maka mereka berkeyakinan untuk mengangkat seseorang untuk menjadi wakil imam untuk mengurus masyarakat dan negara.

Kelompok ini adalah ulama-ulama yang tergabung dalam pimpinan almarhum Khomaini yang berhasil menumbangkan Rezim Pahlevi dan mendirikan Negara Islam Iran. Dalam pasal 5 UUD Iran dijelaskan bahwa selama Imam Mahdi masih hilang, kekuasaan atas negara dan umat ada ditangan ilmuwan agama yang adil dan taqwa. Makanya di Iran terjadi perpaduan antara konsep IMAMAH dan MODERN, mereka juga mengenal lembaga legislatif, eksekutif, presiden dan kabinet yang dipilih melalui pemilihan umum.

MU’TAZILAH

Asal Nama MU’TAZILAH

Asal nama MU”TAZILAH bersumber dari kata إعتزل ( mengasingkan diri), terjadi ketika Washil ibn Atha’ memisahkan diri dari pengajian Hasan Basri, karena beliau berbeda pendapat dengan gurunya tersebut tentang pelaku dosa besar, menurut Hasan Basri pelaku dosa besar tetap MU’TAZILAH’ mukmin, tapi menurut Washil pelaku dosa besar bukan mukmin, bukan pula kafir, tetapi berada di antara kedua posisi tersebut, dan diakhirat nanti mereka tidak di syorga ataupun neraka, tapi diantara kedua tempat itu.

Selanjutnya MU’TAZILAH terkenal sebagai kelompok yang banyak menggunakan logika dan filsafat. Kelompok ini banyak dipengaruhi filsafat yunani yang berkembang waktu itu.

Pemikiran aliran MU’TAZILAH

  1. Allah SWT mustahil dilihat di hari kiamat nanti, alasannya kalau Allah SWT bisa dilihat berarti Allah SWT mempunyai fisik dan tempat, dan itu mustahil bagi Allah SWT. Ini berbeda dengan pendapat ahlusunnah yang mengatakan Allah SWT bisa dilihat di akhirat.
  2. tentang perbuatan manusia: menurut MU’TAZILAH Allah SWT tidak menyukai kerusakan, dan tidak menciptakan perbuatan hamba, tetapi hambalah yang melakukan apa yang diperintah dan yang dilarang dengan DAYA yang diberikan Allah SWT kepada manusia.

Pendapat ini berbeda dengan paham JABBARIYAH yang mengatakan bahwa perbuatan baik dan buruk itu semuanya dari Allah SWT, Allah SWT-lah yang menciptakan perbuatan baik dan buruk. Mereka mencontohkan ketika Nabi Adam AS dilarang memakan buah Khuldi, tapi Allah SWT sendiri yang membuat Adam dan Hawa memakan buah tersebut.

  1. pelaku dosa besar akan kekal selama-lamanya di neraka, tetapi azab mereka lebih ringan dari azab orang kafir, ini berbeda dengan pendapat ahlu sunnah yang mengatakan pelaku dosa besar tidak kekal di neraka, mereka hanya disiksa karena dosa setelah itu mereka akan dipindahkan ke syorga.
  2. syorga dan neraka tidak kekal, menurut mereka sesuatu yang ada awalnya pasti ada akhirnya.
  3. al Quran adalah mahkluk, menurut ahli sunnah al Quran bukan mahkluk melainkan kalam Allah SWT yang Qodim.