Dinamika Perkembangan Dakwah Warga Muslim Indonesia di Taiwan

Taiwan, kalau mungkin bisa dikatakan negeri angin topan yang tiap tahun selalu diterpa bencana alam angin topan, tapi justru kedatangan angin ini memberikan berkah yang sangat vital bagi kehidupan masyarakat Taiwan. Salah seorang penduduk Taiwan mengungkapkan bahwa justru musim angin topan yang selalu menimpa Taiwan setiap tahun adalah gejala alam yang dapat dijadikan alat ukur bagi petani Taiwan untuk menentukan musim tanam dan sebagai tanda musim penghujan, walaupun angin ini selalu mengakibatkan kerusakan fisik dan menumbangkan banyak pepohonan besar tetap saja keberadaan gejala alam ini menjadi sangat penting bagi mereka.
Taiwan yang juga akan dijuluki sebagai salah satu negeri yang memiliki kereta peluru tercepat di dunia secara politik adalah negara tanpa pengakuan dunia internasional. Betapa tidak, negeri yang di klaim sebagai salah satu propinsi oleh china dengan slogannya “one china” dianggap propinsi bengal yang selalu menuntut kemerdekaan. Keberadaan tentara nasional, partai-partai politik dan parlemen juga sistem pemerintahan dan undang-undang negara yang mirip sebuah negara merdeka sebenarnya cukup bisa memberikan bukti bahwa negeri ini berdiri sendiri tanpa dibawah kekuasaan negara manapun. Secara ekonomi, tidak disangkal lagi bahwa salah satu investor asing terbesar di Indonesia berasal dari Taiwan.

Negeri ini memiliki fundamental ekonomi yang cukup stabil dan kuat.
Secara social-budaya, masyarakat Taiwan sangat dipengaruhi oleh kekuatan liberalisme dimana budaya barat akan selalu melekat pada ideologi liberalisme-kapitalisme. Pola hidup ala barat (terutama Amerika) menjadi trend yang begitu kuat mempengaruhi gaya hidup masyarakat Taiwan terutama di kalangan anak muda. Pola hidup serba instant begitu nampak dikalangan anak muda dan pekerja. Pendidikan adalah salah satu program utama pemerintah Taiwan untuk meningkatkan kualitas SDM mereka. Mayoritas penduduk Taiwan yang study ke Luar Negeri adalah lulusan dari universitas-universitas Amerika. Berbagai peningkatan fasilitas pendidikan dan penyiapan tenaga pengajar yang berkualitas adalah bagian dari keseriusan pemerintah Taiwan untuk membangun SDM mereka. Selain itu, Pendidikan juga di manfaatkan oleh Taiwan untuk melakukan kerjasama dan peningkatan hubungan dengan berbagai negara sebagai upaya untuk meningkatkan pengaruh dan kepercayaan Taiwan dengan negara lain.     Sangat menarik bila kita menengok kehidupan sosial masyarakat Taiwan. Keberagaman agama dan struktur sosial yang beragam pula, toleransi dan kepedulian terhadap isu-isu sosial begitu melekat dalam perilaku masyarakatnya. Masih sangat membekas diingatan kita ketika terjadi bencana alam dahsyat yang melanda Indonesia, salah satu organisasi sosial keagamaan terbesar yang berpusat di Taiwan bernama Tzu Chi Foundation yang didirikan oleh Master Chen Yen sesungguhnya didanai oleh mayoritas masyarakat taiwan sendiri. Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengunjungi lembaga yang memiliki gedung begitu megah ini berpusat di kota Hua Lien, kantor pusat Tzu Chi Foundation memiliki komplek yang terstruktur dengan baik, dari mulai tempat peribadatan, pusat pendidikan, pembinaan, pelayanan sosial dan perkantoran. Lembaga tersebut terkesan sangat profesional dan mampu melakukan aktivitas sosial di berbagai lini kehidupan masyarakat, saya sangat takjub dengan pola penanganan sosial yang tidak sekedar melakukan kegiatan yang bersifat jangka pendek, tapi juga jangka panjang dan terkelola dengan baik. Keberadan lembaga sosial ini tidak terlepas dari  kepedulian masyarakat Taiwan terhadap isu-isu sosial.

Selain itu, negeri yang begitu dekat perkawanannya dengan Amerika seakan tidak pernah mengenal istilah terorisme yang dilekatkan kepada identitas pemeluk muslim. Kehidupan penduduk muslim Taiwan yang berjumlah sekitar 50 ribu jiwa memiliki kebebasan beraktifitas keagamaan, sama halnya dengan penduduk beragama lain. Tidak ada kesan diskriminatif yang dilakukan pemerintah terhadap penduduk muslim, bahkan dalam setiap kegiatan Haji setiap tahun pemerintah Taiwan juga turut memberikan subsidi bagi penduduk muslim yang ingin melaksanakan ibadah Haji. Terdapat 6 masjid di 5 kota besar Taiwan antara lain di Taipei, Taichung, Chung li, Kaohsiung dan Tainan. Sangat menggembirakan, dimana salah satu masjid yang ada dikelola oleh warga muslim Indonesia secara penuh. Hal ini tidak lepas dari komunikasi yang intensif dilakukan oleh para pejabat di lingkungan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) dan warga muslim Indonesia dengan para Imam masjid di Taiwan.

Geliat dakwah warga muslim Indonesia.

Mayoritas warga muslim Indonesia di taiwan berprofesi sebagai buruh migran (TKI) yang saat ini jumlah TKI di Taiwan tercatat sejumlah 105,000 orang (sumber KDEI). Jumlah tenaga kerja asing terbesar ke 2 setelah Thailand, Vietnam dan Philipina. Sedangkan di kalangan pelajar muslim Indonesia masih sangat sedikit, hanya sekitar 50-70 orang. Selain itu, penduduk muslim migran di Taiwan juga banyak yang berasal dari berbagai negeri muslim.

Dengan jumlah TKI muslim sebesar itu, masjid-masjid di Taiwan menjadi sangat ramai dikunjungi pada hari-hari besar Islam. Warga muslim dari Indonesia-lah yang meramaikan masjid-masjid tersebut (sekitar 60% jama’ah masjid pada hari besar adalah warga muslim Indonesia). Hanya saja, TKI yang melaksanakan ibadah sholat I’ed pada setiap hari raya tidak sebesar jumlah keseluruhan TKI di Taiwan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kebijakan majikan dan perusahaan yang tetap mempekerjakan TKI pada hari-hari besar Islam. Para TKI tersebar di beberapa kota besar(seperti Taipei, Taichung, Chung-li, Kaohsiung dan Tainan) di lima kota inilah terdapat masjid. Jumlah TKI terbesar ada di Taipei, Taichung dan Kaohsiung. Mayoritas mereka berasal dari jawa timur (Madiun) dan sisanya berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat, juga sedikit dari Sumatra. Sedangkan para pelajar Indonesia tersebar di 5 kota seperti Taipei, Chung-Li, Taichung, Kaohsiung dan Tainan.

Dengan jumlah warga muslim Indonesia yang melebihi jumlah penduduk muslim Taiwan (sekitar 50 ribu jiwa), keberadaannya menjadi sangat penting bagi pengembangan dan penyebaran agama Islam di Taiwan. Aktivitas keagamaan yang dilakukan warga indonesia begitu beragam, dari mulai kajian-kajian keislaman, pelatihan baca tulis al-qur’an, sampai pelatihan keterampilan yang dipandu oleh para pelajar Indonesia di masjid-masjid. Hal yang menjadi begitu optimis bagi perkembangan dakwah ke depan adalah, para TKI sudah mampu secara mandiri mengorganisasikan diri mereka dalam organisasi dakwah. Ada 4 organisasi dakwah tersebar di 4 kota yang didirikan oleh para TKI yaitu MTYT (Majelis Ta’lim Yasin Taipei) di Taipei, IMIT (Ikatan Muslim Indonesia Taiwan) di Taichung, FOSMIT (Forum Silaturahim Muslim Indonesia Taiwan) di Chung-li dan IWAMIT (Ikatan Warga Muslim Indonesia Taiwan) di Kaohsiung. Kelebihan ini menjadi peluang yang begitu besar bagi kami yang berprofesi sebagai pelajar untuk bergabung dan mengembangkan aktivitas dakwah, juga dengan sifat terbukannya para pengurus organisasi yang semuanya adalah TKI membuat jalan kami mendakwahkan mereka menjadi lebih mudah. Sedangkan di kalangan pelajar, pada tanggal 12 Maret 2006 telah didirikan organisasi mahasiswa muslim Indonesia di Taichung yang bernama Forum Mahasiswa Muslim Indonesia Taiwan (FORMMIT). Di harapkan pendiriannya dapat lebih meningkatkan kualitas dakwah Islam di kalangan warga muslim di Taiwan secara umum.

Kontribusi organisasi dakwah warga muslim indonesia
Tentu saja, aktivitas keagamaan yang dilakukan oleh warga muslim Indonesia tidak lepas dari kultur keindonesiaan yang begitu kental dengan nuansa yang keagamaan dua organisasi besar Indonesia yaitu Nahdhlatul Ulama dan Muhammadiyah. Setiap akan dimulai pengajian, selalu diawali dengan bacaan dzikir dan sholawat. Buruh migran yang pernah menjadi santri pondok pesantren tak ayal menjadi langganan memimpin dzikir dan sholawat. Topik kajianpun sangat beragam, tergantung dari kemampuan pemberi materi kajian yang berasal dari TKI sendiri, pelajar dan beberapa pejabat dari KDEI. Sayangnya, pengajian yang dilakukan oleh warga Indonesia masih terfokus hanya untuk kalangan warga Indonesia saja. Sebagai sebuah gambaran, setiap etnis muslim di Taiwan memiliki kelompok pengajian sendiri-sendiri, penduduk Taiwan memiliki kelompok sendiri yang biasanya diisi oleh Imam masjid, ada juga dari kelompok kajian warga Pakistan, dan juga dari Timur Tengah. Mereka menggunakan bahasa pengantarnya masing-masing. Hal inilah yang menjadi kendala kami untuk bisa melaksanakan kajian bersama antar etnis, kendala bahasa menjadi persoalan utama.
Saya ingin mendeskripsikan tentang salah satu masjid yang dikelola oleh warga Indonesia, masjid tersebut biasa dinamakan cultural mosque atau warga muslim Indonesia biasa menamakan masjid kecil, dikatakan kecil karena bangunannya hanya seluas sekitar 8 X 4 meter persegi. Masjid ini berada di kota Taipei, memiliki 5 lantai. Lantai 1, 2 dan 3 digunakan untuk aktifitas keagamaan, termasuk lantai baseman (kita biasa melakukan pengajian di baseman), sedangkan di lantai 4 digunakan sebagai sekretariat dari 2 organisasi Islam warga Indonesia antara lain MTYT (Majelis Ta’lim Yasin Taipei) dan FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia Taiwan). Masjid ini konon pernah memiliki organisasi bagi pemuda muslim Taiwan (Chinese Moslem Youth), tapi saat ini sudah tidak terlihat lagi aktivitas organisasi tersebut. Masjid ini selalu ramai dikunjungi oleh warga Indonesia pada waktu-waktu libur bahkan luas masjid tersebut tidak mampu menampung jumlah warga muslim Indonesia setiap pengajian ahad ke dua. Menjelang bulan Ramadhan, masjid ini setiap hari selalu ramai dikunjungi oleh seluruh warga muslim dari berbagai etnis.

Keadaan tidak berbeda dengan masjid-masjid lainnya, di kota Taichung terdapat satu masjid besar yang juga menjadi sekretariat Ikatan Muslim Indonesia Taiwan (IMIT). Para TKI dan pelajar berbaur menjadi satu untuk melaksanakan berbagai kegiatan-kegiatan keagamaan. Satu prestasi terbesar bagi organisasi IMIT adalah penerbitan majalah “Penyejuk Hati” yang terbit setiap bulan. Majalah ini menjadi satu-satunya majalah Islam bagi warga muslim Indonesia di taiwan, jangan kaget bila majalah ini disusun oleh para TKI, dari mulai penyusunan naskah hingga layout cover majalahnya. Belakangan dipandu oleh para pelajar agar majalah ini bisa dikelola secara profesional. Di kota lain, sebagai kota berpunduduk muslim terbesar, Chung-li memiliki potensi penyebaran agama Islam yang begitu besar. Di kota ini terdapat satu masjid yang juga digunakan sebagai sekretariat bagi Forum Silaturahmi (FOSIL) muslim Indonesia, tahun lalu (2006) organisasi ini sempat mengundang ustadz Arifin Ilham dan ustadz Hadad Alwi sebagai pembicara tabligh akbar menyongsong bulan suci Ramadhan. Tidak sedikit dana yang harus dikeluarkan untuk mengundang da’i kondang dari Indonesia, tapi mereka cukup mampu mengumpulkan dana dari kantong para pekerja Indonesia di Taiwan.

Beralih ke Taiwan belahan selatan di kota Tainan, disini terdapat pula satu masjid yang memiliki lantai 4 dengan luas bangunan yang tidak begitu luas, letak yang kurang begitu strategis dan informasi keberadaannya yang minim menjadikan keberadaan masjid ini jarang disinggahi oleh kalangan Muslim, masjid ini hanya ramai dikunjungi pada hari Jum’at saja dan hanya beberapa jama’ah yang hadir untuk melaksanakan sholat Jum’at. Di kota ini juga terdapat organisasi yang didirikan para TKI yang bernama Forum Kerukunan Keluarga Besar Warga Indonesia Taiwan (FKKBWIT), organisasi ini lebih banyak melakukan aktifitas yang bersifat umum seperti upacara penyambutan hari kemerdekaan RI dan aktifitas kesenian. Satu masjid lagi di belahan paling selatan Taiwan, di kota Kaohsiung juga berdiri satu masjid dengan bangunan yang paling besar diantara masjid-masjid di Taiwan, berlantai 4 dengan berbagai fasilitas yang lengkap. Masjid ini memiliki fasilitas dakwah yang terlengkap di Taiwan, memiiliki bangunan khusus untuk pendidikan dan penginapan bagi muslim yang ingin menuntut ilmu Islam. Ada ruang khusus untuk training dan kajian, tidak hanya itu, masjid ini juga dilengkapi dengan perlengkapan multimedia yang memadai. Di masjid ini juga menjadi pusat sekretariat bagi Ikatan Warga Muslim Indonesia Taiwan (IWAMIT). Satu hal yang sangat menarik dari organisasi ini, IWAMIT telah mampu menerbitkan dua buah buku yang bertemakan tentang pernikahan dan keluarga sakinah. Materi dalam salah satu buku diambil dari berbagai tulisan di internet dan buku terakhir bekerjasama dengan salah satu penerbit buku Islam di Indonesia yang ditulis oleh Cahyadi Takariawan. Kedua buku tersebut terbit dengan mendapat tanggapan yang sangat positif dikalangan warga muslim Indonesia di Taiwan, mereka menerbitkan buku-buku tersebut dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap perilaku dari banyak pekerja Indonesia yang mengarah kepada pergaulan dan sex bebas. Oleh karena itu, kebutuhan akan buku-buku Islam sangat penting untuk bisa memberikan pemahaman terhadap warga muslim Indonesia disini.
Diluar organisasi yang didirikan oleh para buruh migran, ada satu organisasi pelajar muslim Indonesia yang turut memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pengambangan dakwah Islam di Taiwan. Adalah Forum Mahasiswa Muslim Indonesia Taiwan (FORMMIT), didirikan pada tanggal 12 Maret 2006 yang telah membantu memberikan pemahaman keislaman dan juga penguasaan praktis penggunaan komputer dan teknologi informasi bagi buruh migran Indonesia, tidak hanya itu, keberadaan FORMMIT telah memberikan nuansa tersendiri dalam dinamikan dakwah Islam di Taiwan. Melalui diskusi dan komunikasi secara intensif, FORMMIT telah mampu menjadi mediator tali persaudaraan antara muslim Indonesia dengan etnis muslim lainnya di Taiwan khususnya kepada penduduk muslim Taiwan. Kita bisa melihat aktifitas FORMMIT melalui websitenya yang baru saja di launchingkan pertengahan Desember lalu yaitu http://www.formmit.org, diharapkan website tersebut dapat menjadi media informasi dan komunikasi pengambangan dakwah Islam di Taiwan. Selain itu untuk memudahkan dan meningkatkan kualitas dakwah Islam di Taiwan, FORMMIT juga telah memiliki stasiun radio internet yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat melalui internet, secara rutin melakukan kajian pekanan melalui radio internet diharapkan mampu memfasilitasi kebutuhan warga muslim Indonesia di Taiwan dan juga di berbagai penjuru dunia akan kajian keislaman, sehingga lokasi yang berjauhan tidak lagi menjadi kendala dalam menuntut ilmu Islam.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat di Taiwan rupanya turut mempengaruhi dinamika dakwah di Taiwan, seluruh masjid memiliki fasilitas internet yang telah dimanfaatkan secara optimal oleh organisasi muslim Indonesia. Seperti misalnya MTYT yang telah memiliki lebih dari 8 perangkat komputer untuk memfasilitasi para buruh migran untuk mempelajari komputer dan teknologi informasi, hal ini juga terjadi di organisasi IWAMIT yang berada di kota Kaohsiung, mereka memiliki tidak kurang 7 buah perangkat komputer disamping banyak buruh migran yang memiliki perangkat personal komputer sendiri-sendiri. Dengan fasilitas teknologi informasi, para buruh migran Indonesia dapat mempelajari Islam dan informasi lainnya secara langsung di dunia maya. Hal ini juga telah didukung penuh oleh KDEI sebagai bagian dari upaya pembinaan para buruh migran Indonesia di Taiwan.

Penutup

Harapan kedepan, kita menjadi semakin optimis dalam membangun geliat dakwah Islam di Taiwan yang diharapkan tidak hanya terfokus dikalangan warga Indonesia sendiri, tapi juga kepada penduduk Taiwan. Meningkatnya jumlah warga muslim Indonesia yang tinggal menetap di Taiwan diharapkan semakin membantu menyokong kontribusi dakwah islam di negeri tersebut. Selain itu pula, ada hal yang cukup memprihatinkan dengan kehidupan sosial buruh migran Indonesia dengan perilaku pergaulan dan sex bebasnya. Fenomena pesta minuman keras sudah menjadi pemandangan umum dikalangan masyarakat Indonesia bahwa perilaku tersebut begitu cepat merubah karakter moral dan akidah para TKI. Ada semacam kekagetan mental saat mereka menginjakkan kaki di Taiwan sehingga dengan mudah mereka terjerumus ke kehidupan yang merusak mental dan moral. Mungkin saja hal ini dikarenakan masih sangat kurangnya pembekalan pembinaan mental dan moral sebelum mereka diberangkatkan ke Taiwan. Hal inilah, keberadaan organisasi dakwah di Taiwan menjadi begitu penting untuk menjaga dan membentengi para warga muslim Indonesia dari perilaku-perilaku yang sangat jauh dari nilai Islam. Sangat penting kiranya membangun kerjasama dakwah antar NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam di Indonesia untuk membantu memberikan kontribusi dalam pembinaan mental dan spiritual warganya di luar negeri.

Syiar Islam di Taiwan

Awal minggu bulan Juni 2005, rombongan Chinese Muslim Association (CMA) berkunjung ke Indonesia. CMA yang merupakan payung dari organisasi muslim Taiwan itu datang untuk memberikan bantuan sebesar 30.000 dolar AS bagi korban tsunami di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Selama tiga hari di Indonesia, mereka melakukan silaturahmi dengan berbagai organisasi muslim di Jakarta.

Dr Kainan Ma dari Chinese Islamic Cultural & Educational Foundation dan Haji Ushaq Ma, Imam Masjid Besar Taipei, mewakili rombongan, sempat diwawancarai Republika. Berikut ini hasil wawancara itu:

Syiar Islam di Taiwan kian menggeliat. Kendati jumlah kaum Muslim Taiwan hanya sekitar 0,2 persen dari seluruh populasi atau sekitar 50 ribu orang, namun publik Taiwan umumnya bisa ‘menerima’ Islam. Muslimah berjilbab pun kian banyak dijumpai di jalan-jalan utama di Taipei — dan mereka tak canggung menunjukkan identitas kemuslimannya. Di dunia internasional, Muslim Taiwan juga unjuk gigi. Mereka menorehkan prestasi saat mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran tingkat internasional di Madinah, Arab Saudi tahun lalu. Tak hanya itu, mereka juga aktif menyalurkan bantuan bagi saudaranya yang menderita, baik karena perang maupun bencana alam, yang ada di Palestina, Bosnia, Kosovo, Afghanistan, Liberia, dan Irak.

Sebagian besar Muslim Taiwan tinggal di Taipei, dan sisanya tersebar di Taiwan tengah, selatan, dan timur laut. Sejarah Islam di Taiwan dapat dirunut kembali pada abad ke XV. Dalam eskpedisi lautnya yang ketujuh, laksamana laut Zhenghe (kita mengenalnya dengan Cheng Ho) yang juga dikenal dengan nama Abdulsabur Ma singgah di satu tempat yang saat ini dikenal dengan Taiwan. Kedatangan Zhenghe ini disebut-sebut sebagai kedatangan Islam pertama di Taiwan. Secara resmi Islam dibawa ke Taiwan oleh Muslim Cina, khususnya dari Quangzhou dan Fujian dari Cina daratan. Dalam jumlah besar mereka meninggalkan kawasan Cina daratan, menyeberangi selat Taiwan, dan kemudian tinggal di Taiwan serta menyebarkan Islam.

Gelombang kedatangan Muslim Cina daratan kembali terjadi pada 1949 bersama dengan tentara dan pendukung kubu nasionalis. Kedatangan inilah yang menjadi dasar bagi perkembangan Islam di Taiwan saat ini. Mereka yang sebagian besar kaum laki-laki ini segera menikah dengan warga setempat dan pada saat yang sama menyebarkan Islam. Pada 1980-an, Muslim Myanmar dan Thailand beremigrasi ke negara ini. Pada 1936 untuk pertama kali berdiri organisasi Muslim bernama Chinese Muslim Association (CMA). Organisasi ini didirikan oleh Jenderal Omar Pai di Hankuo City. Saat ini keanggotaan CMA mencakup Chinese Muslim Youth League, Chinese Islamic Cultural & Educational Foundation (CICEF), dan enam masjid yang ada di Taiwan.

Secara teratur CMA menerbitkan jurnal dua bulanan, Islam in China. Di luar ini CMA berusaha menerjemahkan dan menerbitkan berbagai tulisan mengenai Islam. CMA juga berusaha agar imam masjid setidaknya tamatan dari universitas Islam terkenal, seperti Universitas Al Azhar (Mesir), Islamic University (Madinah), Ummu Al Qurq University (Makkah), dan Qar-Yunis Univesrsity (Bangazi). CMA juga memberikan beasiswa bagi generasi muda Muslim untuk menuntut pendidikan di universitas Islam bertaraf internasional.

Muslim Taiwan tak hanya menggelar kajian Islam. Mereka juga membuka masjid bagi umat non-Islam. Tujuannya agar mereka mendapatkan pemahaman mengenai the real Islam secara utuh. ”Langkah ini menjadi sangat penting karena Islam kerap dipandang dengan salah oleh pihak luar, dalam hal ini barat. Terlebih setelah peristiwa 9 Nopember 2001 di New York dan Washington,” ujar Ketua CICEF, Dr Kainan Ma. Meski tidak terlalu buruk, pandangan seperti itu juga dirasakan oleh Muslim Taiwan. Oleh karena itu, kata Ma, Muslim Taiwan tampil aktif untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai. Mereka kerap muncul di televisi, menggelar sejumlah konferensi pers untuk menjelaskan Islam. CMA, kata Ma, juga mempunyai program yang mendorong adanya silaturahmi bagi Muslim antarbangsa.

Ma yang juga salah satu penasehat di CMA mengatakan, Muslim Taiwan saat ini bisa hidup dengan tenang dan damai dengan umat beragam lain. Mereka juga mendapat kesempatan yang sama dalam pendidikan dan pekerjaan di instansi pemerintah. Bagi Muslimah tidak ada larangan untuk mengenakan jilbab, baik ketika bekerja di institusi pemerintah maupun swasta. ”Kalau pun ada larangan mengenakan jilbab, itu adalah sikap pribadi yang tidak mencerminkan sikap umum sebuah lembaga apalagi pemerintah,” tambah Kainan Ma.

Untuk menunaikan ibadah, Muslim Taiwan juga tidak mempunyai kesulitan. Saat ini ada enam masjid di Taiwan, dua diantaranya di Taipei, dan lainnya di Zhongli, Taizhong, Tainan, dan Gaoxiong. Haji Ishaq Ma, salah satu Imam Masjid Besar Taipei, mengatakan masjid praktis menjadi pusat semua kegiatan Muslim Taiwan. Hari-hari biasa, jumlah jamaah shalat antara 100 hingga 300 orang. Jumlahnya akan membengkak saat Idul Fitri atau Idul Adha. ”Bisa mencapai angka 6.000 hingga 7.000,” ujarnya.

Di luar acara rutin ini, mereka menggelar aneka kajian Islam. Di Masjid Besar Taipei, misalnya, secara teratur menggelar kursus singkat Understanding Islam bagi umat non-muslim, khususnya mereka yang berprofesi pendidik. Selain itu, mereka juga secara berkala mengadakan bazar kemanusiaan, memberikan bea siswa, menggelar upacara pernikahan, hingga upacara bagi mualaf.

Asal tahu saja, jumlah mualaf di Taiwan terus bertambah dari tahun ke tahun. Meski tak ada data pasti, namun hampir tiap pekan selalu ada mualaf baru yang diislamkan di masjid-masjid di Taiwan. ”Menjadi Muslim adalah keinginan saya sejak dulu, tapi baru hari ini terwujud,” ujar Nadia — ia enggan menyebutkan nama aslinya — seperti dikutip Taiwan Times edisi awal Juni 2005. Bersama dua rekannya, ia diislamkan di Masjid Besar Taipei.
‘Wali Kota pun Berterima Kasih pada TKI’

Kehadiran ribuan tenaga kerja Indonesia (TKI) Muslim di Taiwan tidak dapat dipungkiri ikut memberi warna tersendiri bagi kehidupan umat Islam Taiwan. Seperti dikatakan Imam Masjid Besar Taipei, Haji Ishaq Ma, dengan kedatangan para TKI itu, Muslim Taiwan ibarat menerima kedatangan keluarga besar. Terlebih diantara tenaga kerja asing yang ada di Taiwan, TKI dinilai paling santun. Sebelum pengiriman TKI ke Taiwan dihentikan, jumlah TKI mencapai 200 ribuan dan sebagian besar Muslim. Saat ini jumlahnya tinggal sekitar l 20 ribu orang, sebagian bekerja di sektor industri, panti jompo, atau di rumah-rumah keluarga Taiwan.

Enam masjid di Taiwan, kata Ma, tidak pernah sepi dari kehadiran mereka. Jamaah masjid lain biasanya akan memberikan tempat khusus jika mengetahui yang hendak salat adalah orang Indonesia. Saking eratnya, masjid-masjid di Taiwan pun kerap menjalin kerjasama dengan TKI, seperti mengorganisasi salat Indul Fitri, salat Idul Adha, menggelar bazar, seminar, dan kajian Islam.

Tak hanya itu saja, tegas Ma, mereka juga bekerja sama dengan pemerintah membangun fasilitas khusus untuk melindungi TKI yang tengah mendapat masalah. Ma mengatakan tidak sedkit TKI yang mendapat perlakuan tak sedap dari majikan atau pihak agen yang mengirim mereka. Mereka yang tengah mendapat cobaan ini, kata Ma, bisa mendatangi tempat yang disediakan masjid sambil menunggu mendapatkan pekerjaan baru atau pemulangan ke Tanah Air.

Bagi Dr Kainan Ma, kehadiran TKI di Taiwan semakin menebalkan keinginannya untuk menghabiskan sisa umurnya di Indonesa. Meski baru dua kali ke Indonesia, Ma sambil tersenyum mengatakan ia sangat ingin tinggal di Indonesia. Ia mengatakan Indonesia banyak dikenalnya melalui adik kandungnya yang merupakan salah satu sahabat dekat mantan presiden Abdurrahman Wahid ketika kuliah di Universitas Baghdad, Irak. ”Apakah bisa mencarikan informasi mengenai perumahan Muslim di Jakarta?” tanya pensiunan mayor jenderal di Angkatan Darat Taiwan ini. Ma dan rekan-rekannya tentu tidak sedang ‘menghibur’ hati tuan rumahnya dalam kunjungannya ke Indonesia itu. Harian Taipei Times terbitan 17 Desember 2001 menuliskan hal yang sama. Harian ini memuat komentar Wali kota/Mayor Taipei, Ma Ying-jeou dalam pidato ucapan selamat Idul Fitri. Ia menyatakan terima kasihnya pada para pekerja asal Indonesia yang berkontribusi bagi harmonisasi kehidupan beragama di Taiwan. ”Mereka menunjukkan diri sebagai warga yang berbudi,” ujarnya.

 

 

Islam di Taiwan

 

Masjid Agung Taipei

Islam di Taiwan termasuk agama yang relatif kecil meski dianut oleh cukup banyak orang. Masuknya Islam ke Taiwan (waktu itu masih bernama Pulau Formosa) tidak lepas dari sejarah masuknya Islam ke negeri Tiongkok. Islam masuk ke Tiongkok melalui kawasan barat negeri itu, bersamaan dengan kedatangan pedagang Muslim pada abad ketujuh Masehi yang kemudian menikahi perempuan setempat. Perkawinan mereka menghasilkan kelompok etnis baru di Tiongkok yang bernama etnis Hui. Itu sebabnya mula-mula masyarakat Tiongkok biasa menyebut agama Islam dengan sebutan 回教 (Huì Jiào)yang berarti “agama Hui”. Tapi belakangan masyarakat lebih terbiasa dengan sebutan 伊斯蘭教 (Yīsīlán Jiào) atau “agama Islam”.

Di Tiongkok ada sekitar 20 juta orang beragama Islam. Sebagian di antara mereka kemudian berhijrah ke Taiwan pada abad ke-17 saat orang Muslim yang tinggal di provinsi Fujian yang berada di pesisir selatan Tiongkok bergabung dengan pasukan Koxinga (Cheng Cheng-Kung) menyerbu Taiwan untuk mengusir pasukan Belanda yang menduduki pulau itu. Usai perang, sebagian pasukan Koxinga yang beragama Islam itu ada yang memilih menetap di Taiwan.

Keturunan mereka kemudian menikah dan berasimilasi dengan masyarakat setempat. Sebagian mereka ada yang tetap menjadi Muslim, sedangkan sebagian lain berpindah agama.

Menurut Profesor Lien Ya Tang dalam bukunya yang berjudul History of Taiwan (1918), meskipun mereka beragama Islam, orang Muslim yang menetap di pulau Formosa itu tidak aktif menyebarkan agamanya. Mereka juga tidak membangun masjid di pulau tersebut.

Gelombang kedua kedatangan orang Muslim ke Taiwan berlangsung selama perang sipil Tiongkok pada abad ke-20. Pada saat itu sekitar 20.000 tentara Muslim beserta keluarganya yang pro partai nasionalis Kuomintang pimpinan Chiang Kai Shek ikut hijrah ke Taiwan pada tahun 1949, karena tidak sudi berada di Tiongkok daratan yang dikuasai Partai Komunis Tiongkok.

Kebanyakan mereka adalah tentara dan pegawai negeri yang berasal dari provinsi Tiongkok bagian selatan dan barat yang banyak dihuni orang Islam, seperti Yunnan, Xinjiang, Ningxia, dan Gansu.

Selama tahun 1950-an kontak antara etnis Hui (masyarakat Muslim) dan etnis Han sangat terbatas karena perbedaan adat istiadat di antara mereka. Kebanyakan masyarakat Muslim lebih mengandalkan hubungan antar mereka sendiri melalui pertemuan komunitas mereka di sebuah rumah di Jalan Lishui (麗水街) di Taipei.

Namun ketika tahun 1960-an kaum Muslimin melihat kenyataan bahwa kembali ke Tiongkok daratan tidak lebih baik, kontak dengan etnis Han jadi lebih sering. Meski begitu interaksi dan saling bantu dengan sesama umat Islam tetap terus dijaga.

Pada tahun 1980-an ribuan umat Islam dari Myanmar dan Thailand bermigrasi ke Taiwan untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Mereka adalah keturunan tentara pro nasionalis yang melarikan diri dari provinsi Yunnan ketika kelompok komunis berhasil menguasai Tiongkok daratan.

Saat ini ada sekitar 53.000 orang Taiwan yang beragama Islam serta lebih dari 80.000 orang Muslim Indonesia yang menjadi pekerja (TKI) di Taiwan. Sehingga saat ini (tahun 2007) ada sekitar 140.000 umat Islam di Taiwan.

Meskipun perkembangan umat Islam di negeri ini sangat lambat namun dilaporkan setiap tahun ada sekitar 100 orang Taiwan yang masuk Islam, terutama karena menikah dengan pria Muslim.